Beranda » Kabar Buku » Argumen Logis Teori Sastra

Argumen Logis Teori Sastra

Diposting pada 1 Agustus 2020 oleh Ipon Semesta | Dilihat: 11 kali | Kategori:

Kalau ada orang yang mengklaim dirinya kritikus sastra, dan membuat-buat teori sastra “sujud-sujudan” tanpa landasan logika yang kuat, lalu berdalih ia sudah paham logika (jadi tidak perlu logika lagi?) padahal yang sebenarnya adalah ia memang tak paham logika, maka jenis teori apa yang akan dilahirkannya? Teori sastra gaib? Teori sastra yang tak bisa dibuktikan secara logis oleh siapa pun? Lalu, jika memang tak bisa dibuktikan secara logis, apakah masih bisa disebut teori? Kemudian, untuk menutupi ketidakmampuannya dalam pembuktian logis, ia mulai sibuk melakukan argumentumadhominem terhadap para pemikir teori sastra Barat, tanpa sedikit pun menyadari bahwa yang dilakukannya itu justru bukan kritik melainkan sesat pikir berbau rasial.

Kalau ada orang yang secara tak tahu diri mengaku-ngaku profesor, padahal di Indonesia gelar profesor itu sudah ada aturan hukumnya, seperti tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 Butir 3 *), yang menyebutkan bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi, maka jelas ia telah menyebarkan kebohongan ke ruang publik dan tindakan melawan hukum.

Kalau ada orang yang secara ngawur mengklaim dirinya sebagai kritikus sastra “ilahi”, dengan membangun kriteria bahwa sastra ilahi adalah jenis sastra yang sibuk “menempelkan” ayat-ayat dari kitab suci ke dalam teks karya sastra, maka jelas sekali ia termasuk “kritikus sastra ala khilafiah”. Ia sama sekali tidak sadar, bahwa kriterianya itu merupakan kriteria artifisial, kriteria permukaan belaka, yang justru makin membawanya jauh dari makna substantif keilahian itu sendiri. Seseorang yang cenderung mengutip-ngutip ayat kitab suci, hanya demi bergagah-gagah agar diakui sebagai orang paling religius, tanpa memahami makna ayat-ayat tersebut secara mendalam, adalah jenis orang yang terjebak oleh “sesat pikir absolutisme”. Ia berpikir bahwa ketika ia menempelkan ayat-ayat dari kitab suci pada tulisannya, tanpa memahami maknanya dengan mendalam, maka orang-orang akan terpesona dan cenderung menganggap tulisannya itu setara dengan ayat suci, dalam arti sama absolutnya, sehingga tak bisa diuji secara logis oleh siapa pun. Termasuk, bahkan, oleh dirinya sendiri. Itu yang saya maksud sesat pikir absolutisme.

Padahal faktanya, secara hermeneutika, tafsir terhadap kitab suci, bahkan bila itu tafsir yang benar sekalipun, tidaklah bisa setara dengan ayat-ayat suci. Orang itu mestinya belajar dari sufi agung Jalaluddin Rumi, yang dalam ribuan puisinya, tidak pernah mentah-mentah hanya “menempelkan” ayat-ayat Al-Quran ke dalam puisinya. Meski begitu, orang-orang dari ragam keimanan sampai sekarang mengakui bahwa puisi-puisi Rumi, secara metaforis, adalah “Al-Quran kedua” oleh sebab kedalaman maknanya. Namun, malangnya, kritikus sastra nan sok ilahi itu justru pernah menulis  bahwa kesadarannya telah melampaui Jalaluddin Rumi. Padahal faktanya, seperti tertuang dalam tulisan-tulisannya di Medsos, ia justru sama sekali masih jauh dari kesadaran Rumi yang sudah “beyondlogic”, sementara ia sendiri dasar-dasar logika saja belum paham, tetapi sudah kalap dan berlagak hendak membuat satu teori.

Jadi, bila ia mau uji koherensi dan konsistensi pendapat “sujud-sujudan”-nya itu, yang bagi saya hanya semacam propaganda kosong dan sama sekali bukan teori sastra, maka silakan berdiskusi secara logis  dan tidak sekadar meracau dengan main comot sana-sini gagasan orang lain yang sebenarnya justru tidak ia pahami, seperti klaim “megalomaniak” yang sering ia kampanyekan selama ini. Klaim tentang “paham” itu mesti ia “buktikan” dengan logis, pula mesti siap diuji, bukan sekadar dengan membuat omong besar untuk menutupi ketidakpahamannya. Bagi saya, klaim-klaim kosong begitu, hanya sampah kata-kata, dan sama sekali bukan sebuah argumen logis.

Jika sebelumnya dosen dengan gelar akademis magister (S2), bahkan sarjana (S1) bisa menjadi guru besar/profesor, maka sejak tahun 2007 hanya mereka yang memiliki gelar akademik doktor saja yang bisa menjadi profesor. Hal ini disebabkan, karena hanya profesor inilah yang memiliki kewenangan untuk membimbing calon doktor.

~~ Ipon Semesta ~~

Bantul – Yogyakarta 21/07/20

Bagikan

Argumen Logis Teori Sastra | Pustaka Kita | Toko Buku Online Yogyakarta Termurah & Terpercaya

Komentar (0)

Silakan tulis komentar Anda

Anda Mungkin Suka

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja