Beranda » Kabar Buku » Penyair dan Puisi

Penyair dan Puisi

Diposting pada 23 Juli 2020 oleh Ipon Semesta | Dilihat: 20 kali | Kategori:

PENYAIR dan puisi Indonesia mutakhir-banyak yang menggunakan kosa-kata “luka”, “duka”, dan “derita” dalam medan makna yang cenderung seragam. Kata-kata (dalam beberapa puisi penyair Indonesia mutakhir) itu-ditempatkan sebagai kenangan dari masa-lalu yang gelap dan menyiksa. Suatu “ruang” dari spektrum pengalaman pribadi yang tenggelam dalam lubuk derita dan tidak menimbulkan sikap positif yang, karena itu, tidak memunculkan gairah untuk hidup. (Bahkan) beberapa penyair kita saat ini, hanya menjadi pengamat serta penonton yang memotret fenomena sosial. (Lalu) luka dan penderitaan yang terekspresikan dalam sejumlah puisi itupun-tak ubahnya menjadi suara kelas menengah yang merepresentasikan penderitaan kaum proletar.

Dalam beberapa sisi, mungkin lho. Tetapi dikaji lagi dalam beberapa sisi lain, persepsinya kontradiktif dengan realitas kehidupan sosial mayoritas penyair (baca: sastrawan). Jika kita berasumsi, suara-suara beberapa penyair Indonesia mutakhir dengan puisi “luka-duka-derita” itu sekadar mengekspresikan luka-duka-derita kaum proletar. Secara faktual, menurut saya, malah justru sebaliknya. Karena, setahu saya, hingga hari ini, penyair Indonesia juga seniman-senimannya-terkecuali para pelukis tertentu, tidak terbantahkan merupakan bagian dari ilustrasi makro kaum proletar itu sendiri. Satu komunitas masyarakat yang suara-suara kritisnya terpotong sistem birokrasi, otoritas partai politik, cengkeraman kekuasaan, dan kedunguan para pengelola negara.

Para penyair sebagaimana cendekiawan di manapun, senantiasa memosisikan diri “berhadap-hadapan” untuk tidak mengatakannya oposisi dengan konteks serta teks kekinian jamannya. Ia-para penyair itu, tidak mungkin menjadi sekelompok kaum yang, meminjam istilah Julian Benda, melakukan La Trahison des Clers (pengkhianatan kaum cendekiawan). Dengan bersikap rekonstruktif terhadap fenomena kontekstual yang berlangsung dalam wilayah kehidupan sosial (publik) dan kehidupan individual (privat) melalui teks puisi (karya sastra). Setidaknya, para penyair memosisikan dirinya menjadi “juru bicara” jamannya. Diterima atau tidak, dipahami atau tidak.

Begitulah, perasaan luka-duka-derita yang terekspresikan dalam beberapa puisi para penyair Indonesia mutakhir juga para penyair sebelumnya-hemat saya, tidak bisa melulu dipahami sebagai teks yang menghujamkan mata-pena kepedihan yang terpisah dengan “semesta” di luar konteks penciptaan yang menyeret dirinya ke dalam berbagai tema itu. Apa yang hendak saya katakan sebagai “juru bicara” tidak lain, semacam sikap “rendah hati” para penyair terhadap konstruk kehidupan sosial kita seperti berada pada lubang hitam (black-hole), dan tak terdeteksi. Sehingga para penyair sekadar melakukan sebagai juru bicara. Posisi “juru bicara” yang, kelak menjadikan para penyair (sastrawan) dalam konteks sosial secara luas memang akan terasa fungsional. Jika, apa yang disuarakan para penyair tidak bertepuk sebelah tangan. Birokrasi, kekuasaan, politik, dan para pengelola negara yang meletakkan dirinya menjadi sub-sistem dari serpihan-serpihan keadaan sosial, sedikit saja membuka daun telinga. Puisi akan memiliki maknanya yang signifikan, memiliki keberartian yang menerbitkan empati. Meski diakui, apa yang terjadi kemudian dalam beberapa puisi Indonesia mutakhir yang ditulis selama kurun 1999-yang dijadikan luka-duka-derita itu, seperti “mengerat” dirinya sendiri. Para penyair itu, menempatkan kosa-kata luka-duka-derita untuk menegaskan penanda sekaligus pertanda, ada yang bersifat privacy. Ada yang bersifat personal, dan tidak sepenuhnya mengarah ke wilayah publik.

Tetapi soalnya, benarkah-luka-duka-derita, lebih dikarenakan para penyair kita tidak pernah terlibat secara intens dalam penderitaan serta gejolak yang dirasakan masyarakat? Benarkah dalam konteks keterpurukan bangsa ini, karena para penyair kita tidak pernah menjadi pengusung kemerdekaan dan penggerak arus hidup? Dan, benarkah juga karena para penyair kita hanya menjadi “juru bicara” penderitaan?

~~ Ipon Semesta ~~
Denpasar 18012015
Penulis adalah cerpenis dan pemerhati sosial budaya

Bagikan

Penyair dan Puisi | Pustaka Kita | Toko Buku Online Yogyakarta Termurah & Terpercaya

Komentar (0)

Silakan tulis komentar Anda

Anda Mungkin Suka

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja