Beranda » Kabar Buku » Seni dan Budaya sebagai Mainstream

Seni dan Budaya sebagai Mainstream

Diposting pada 16 Juli 2020 oleh Ipon Semesta | Dilihat: 27 kali | Kategori:

SENI DAN BUDAYA SEBAGAI MAINSTREAM

Oleh: Ipon Semesta

Seni dan budaya, dua entitas yang, pada dasarnya selama ini, dalam banyak sisi telah menjadikan masyarakat kita mampu bertahan dan keluar dari berbagai kemelut yang melanda negara maupun pemerintahan. Seni atau karya-karya seni, juga eksplorasi budaya-bahkan tanpa kita pahami lebih jauh makna serta detail orientasi pemikiran di dalamnya-menerobos batas-batas yang rasional dan irrasional. Sehingga seni atau budaya menjadi mata-rantai yang tanpa disadari sepenuhnya telah “mempertemukan” ruang publik (public spare) dari subsistem kehidupan sosial.

Seni-demikian seterusnya budaya juga, merupakan sebentuk identitas yang meletakkan hampir setiap aktivitas masyarakat memiliki kausalitas dan relevansi tersendiri dengan perubahan-perubahan. Baik dalam sudut pandang yang esoteris seni dengan nilai-nilai yang lebih merepersentasikan visinya secara “abstrak”, ataupun budaya yang menegaskan adanya pertarungan identitas yang bersifat “masif”. Namun, demikian, keduanya, telah merumuskan apa yang pernah diklaim kaum strukturalis sebagai semiotika. Bahwa seluruh entitas yang berlangsung dalam konstruk masyarakat, sebenarnya sedang mengulang kembali teks maupun konteksnya dengan soal-soal berikut yang, tidak lain, menegaskan sejumlah peratutan berbagai kehendak.

Dan seni juga budaya, melukiskan proses abstraksi serta masifikasi yang membawa publik ke dalam arus tata-nilai yang sebangun: “selera”. Individualitas atau kolektivitas tidak lagi menjadi penentu dalam memberi stigma terhadap apapun yang melambangkan simbol-simbol perubahan. Terlebih lagi, paradigma seni dan budaya dengan bertolak pada lapis masyarakat yang, kelak, membangun relasi antara kehendak yang menampilkan visi dengan proses pencitraan misi yang diasumsikan dapat berfungsi sekaligus juga dapat mempengaruhi perubahan di luar dirinya sebagai “identitas bersama “. Katakanlah, selera misalnya, sebagi produk yang tak terhindarkan dalam menyusun tesis serta antitesis yang menjadi muara dalam berbagai perpaduan identitas-identitas.

Dalam perspektif itulah, seni dan budaya, bergerak dalam mobilitas puncak ide-ide yang melewati pencapaian persepsi publik maupun peneguhan adanya identifikasi ide-ide dengan berbagai gagasan yang menegaskan kembali, bagaimana seni dan budaya telah “berhasil” memosisikan diri sebagai mainstream. Pendidikan yang kehilangan imajinasi.

Identitas yang menjadi subsistem dalam peneguhan adanya mainstream, diakui atau tidak, senantiasa bermula dari bagaimana imajinasi identifikasi pola-pola pendidikan mampu menyusun serta merumuskan proses pencitraan diri (self images) sebagai proses pembentukan watak ekspolratif sekaligus transformatif. Dengan kata lain, pergumulan kreatif masyarakat yang mengartikulasikan sistem pendidikan secara keseluruhan tanpa meletakkan imajinasi untuk mengandaikan terbukanya gagasan-gagasan baru, hampir dapat dipastikan akan berhenti sebagai proses pembelajaran yang bersifat normatif.

Sejak fase kedua dalam repelita pemerintahan orde baru, tampak sekali melepaskan gagasan-gagasan imajinal yang didukung oleh pencitraan adanya kreativitas, dalam mendistribusikan kerangka berfikir paradigmatis dengan berbagai kemugkinan terbukanya simpul-simpul timbal balik pada anak didik telah menghilangkan fase-fase awal dimana pencapaian yang mendistribusikan kreativitas tidak lagi sebagai bagian dari artikulasi yang menguatkan adanya kreativitas, kapasitas, intelektualitas dan bakat alam.

Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam Bakat Alam dan Intelektualisme (1971) menyebutkan perpaduan dari keduanya hendak mempertemukan keseimbangan antara kreatifitas dan kapasitas sebagai muatan awal dari kekuatan individu untuk merespon apa yang menjadikan ide-ide menjadi bakat alam, disatu sisi. Dan proses pematangan melalui instrumen pendidikan sebagai pembentukan dalam postulat yang mengukuhkan intelektulitas menjadi pertautan yang mengukuhkan intelektualitas, pada sisi yang lain. Dalam konteks di atas Paulo Freire, membuka dimensi yang menyebal dari pandangan umumnya dari dalam dunia pendidikan dengan gagasan yang kontroversial melalui alternatif pijakan yang memosisikan pendidika tidak lagi berada pada lingkup akademis yang benar-benar normatif. Yaitu, gagasan disschooling society. Asumsinya, dalam konstruk pendidikan dimanapun, senantiasa mengandaikan ide-ide pendidikan dan kreativitas anak didik akan simetris dan diametral dengan kemungkinan adanya penciptaan kreativitas itu  sendiri pada proses berikutnya. Sehingga kreativitas dinilai sebagai persepsi  yang taken for granted seiring dengan kurun waktu berjalannya pendidikan tidak mengherankan, sejumlah anak-anak didik yang memenangkan lomba-lomba karya ilmiah dan kompetisi -kompetisi ilmu-ilmu eksak, berhenti sebagai seorang akademikus yang kehilangan orientasi dan tidak lagi memperlihatkan adanya jeniusitas dalam pemikiran-pemikiran yang visioner.

Pada satu kesempatan, penyair Taufiq Ismail mengungkapkan keanehan bahwa para siswa terbaik negeri ini yang bersekolah di Amerika Serikat, menguasai hampir seluruh rurmus-rumus eksak tetapi tidak dapat menunjukan realisasinya di dalam contoh-contoh visual. Siswa-siswa berprestasi dari Indonesia sangat terkesan lebih banyak melakukan proses intelektualitasnya tanpa menekankan analisis dan eksplorasi yang menjadi bagian dari kekuatan intelektual.

Semua itu menunjukan kepada kita bahwa pendidikan yang dirumuskan secara makro dalam konteks Negara kita telah kehilangan atribut-atribut “kebebasan” individu untuk melakukan proses dialektika yang menggambarkan adanya kreativitas sebagai bentuk pencapaian antara bakat alam dan intelektualisme merupakan rumusan yang tak teridentifikasi dalam wacana kurikulum pendidikan kita. Sehingga gagasan yang dikenal sebagai mata pelajaran ekstra kurikuler yang diorientasikan untuk lebih memerankan unsur lokalitas (muatan lokal), hanya memperlihatkan gagasan primordialitas yang tidak eksploratif pada konteks ini, seni dan budaya sekadar menjadi variable maupun instrument yang menempati pokok bahasan dalam skala mata pelajaran yang sangat parsial yang terjadi pada kemerosotan moralitas akademis salah satunya berangkat dari minimnya tafsir kita terhadapnya gagasan yang seni dan budaya, jika kita hendak memosisikan sebagai mainstream dalam pemikiran dan aktifitas pendidikan hendaknya tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap dari subsistem mata pelajaran yang dinilai lebih rendah dan tidak menentukan dibandingkan dengan mata pejalaran yang bersifat eksak karena dari sanalah dua titik pertemuan yang menguatkan gagasan-gagasan yang berorientasi pada pemikiran eksak dan eksplorasi kebudayaan, seharusnya dimulai dan dikukuhkan dalam kurikulum pendidikan kita. ***

Denpasar 0712015

*) Penulis adalah cerpenis, esais dan pemerhati sosial budaya

Bagikan

Seni dan Budaya sebagai Mainstream | Pustaka Kita | Toko Buku Online Yogyakarta Termurah & Terpercaya

Komentar (0)

Silakan tulis komentar Anda

Anda Mungkin Suka

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja