Beranda » Bahasa dan Sastra » Novel » Ahangkara (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

Ahangkara (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

DISKON 25% ISBN: 978-602-6799-13-5 Stok: Tersedia
Berat 500 gram
Kondisi Baru
Kategori Novel
Dilihat 1.401 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan

Ahangkara (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja Anda
Lanjut Belanja
Keranjangku
Rp 71.250 Rp 95.000
Hemat Rp 23.750
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Ahangkara (Sengketa Kekuasaan dan Agama)
Rp 71.250 Rp 95.000
Tersedia / 978-602-6799-13-5
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Buku Ahangkara (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

Penulis     : Makinuddin Samin

Tebal         : 500 hlm

Ukuran     : 14 x 21 cm

Penerbit   : Javanica

Deskripsi :

Demak tak pernah sanggup tidur nyenyak setelah menghancurkan Majapahit pada tahun 1478 dan menobatkan Nyo Lay Wa sebagai raja boneka. Kekuatan yang masih setia pada Majapahit bisa memberontak kapan saja. Penguasa Demak, Trenggana, pun menggalang kekuatan untuk menaklukkan tanah Jawa. Dahanapura dan Tuban menjadi dua wilayah pertama yang bakal ditundukkan. Dahanapura siap menyambut pasukan Demak setelah mengungsikan rakyatnya dan lontar-lontar warisan Majapahit. Di Tuban, telik sandi disebar, seluruh pasukan disiagakan. Namun, Demak dibayang-bayangi kekuatan yang ingin membelokkan tujuan perang. Penumpang gelap itu ingin mengubah perang penaklukan Jawa menjadi perang antar-keyakinan. Mereka ingin menghapus agama leluhur Jawa sekaligus aliran agama Rasul yang dianggap sesat, terutama Aliran Tuban Sunan Kalijaga dan Aliran Lemahbang Syekh Siti Jenar.

Laskar Demak pimpinan Sunan Kudus berhasil menghancurkan Dahanapura yang mengobarkan perang puputan. Tuban terpaksa menyerah dalam hitungan hari. Atas nasihat Sunan Kalijaga, Adipati Tuban Arya Gegilang menjalankan Siasat Wijaya untuk melawan Demak. Strategi perang warisan Raden Wijaya ketika menumpas pasukan Tartar itu dijalankan selama 19 tahun tanpa henti. Perang telik sandi, persekongkolan, pengkhianatan, dan balas dendam terjadi sepanjang waktu.

Ketika Demak berupaya menaklukkan Panarukan, Arya Penangsang, keponakan Trenggana, diam-diam menyiapkan kekuatan perang di Jipang Panolan demi membalas dendam atas kematian ayahnya, Pangeran Surawiyata, yang tewas oleh siasat Raden Mukmin, putra Trenggana. Dendam Arya Penangsang dan persekutuan antar-kadipaten yang digalang jaringan telik sandi Tuban pun mengancam ambisi Demak menjadi penguasa tunggal Nusantara. Gempa bumi melanda berkali-kali, pertanda huru-hara besar bakal terjadi. Tanah Jawa berada dalam prahara.

 

Tags: , ,

Buku Terkait
Diskusi Produk (0)

Silakan tulis komentar Anda

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja