Beranda » Biografi/Autobiografi » Memoar Sidarto Danusubroto; Ajudan Bung Karno

Memoar Sidarto Danusubroto; Ajudan Bung Karno

DISKON 15% ISBN: 978-602-258-053-9 Stok: Tersedia
Berat 350 gram
Kondisi Baru
Kategori Biografi/Autobiografi
Dilihat 1.076 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan

Memoar Sidarto Danusubroto; Ajudan Bung Karno

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja Anda
Lanjut Belanja
Keranjangku
Rp 55.250 Rp 65.000
Hemat Rp 9.750
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Memoar Sidarto Danusubroto; Ajudan Bung Karno
Rp 55.250 Rp 65.000
Tersedia / 978-602-258-053-9
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Buku Memoar Sidarto Danusubroto; Ajudan Bung Karno

Penulis    : Asvi Warman Adam

Tebal         : xviii+320 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Ombak

Deksripsi:

Lahir di Pandeglang 11 Juni 1936, Sidarto Danusubroto hidup pada tiga zaman yang masing-masing mengutamakan idealisme, kekuatan, dan uang. Bersekolah di Yogyakarta, beliau masuk PTIK tahun 1955 dan kemudian melanjutkan pendidikan kepolisian ke AS tahun 1964/1965.

Beliau menjadi ajudan Presiden Sukarno saat peralihan kekuasaan pasca Supersemar yang berdampak kepada interogasi yang dialaminya selama empat tahun. Setelah terhambat sekian lama, antara lain, 7,5 tahun menjabat kolonel, secara perlahan beliau meneruskan karier kepolisian bahkan sempat dua kali menjadi Kapolda. Setelah pensiun beliau bergerak dalam bidang swasta dan peralihan kekuasaan tahun 1998 membawanya ke ranah politik sebagai anggota DPR selama tiga periode.

“Sisi sejarah yang hilang” sebetulnya ungkapan eufisme bahwa telah terjadi manipulasi sejarah yang perlu dijernihkan kembali. Sukarno dijatuhkan dan perannya direduksi dalam sejarah Indonesia. Mengungkapkan “sisi sejarah yang hilang” tidak lain dari memberikan tempat yang tepat dan layak bagi Bung Karno.

Sidarto Danusubroto menjadi saksi bagaimana buruknya tindakan pemerintah terhadap seorang presiden yang masih menjabat walaupun de facto sudah nonaktif. Sukarno tidak pernah diputuskan menjadi tahanan kota bahkan tahanan rumah, namun untuk bepergian dari rumahnya di Batu Tulis di Bogor beliau harus meminta ijin kepada dua Pangdam. Pangdam Siliwangi untuk meninggalkan Bogor dan Pangdam Jaya untuk memasuki wilayah Jakarta dalam rangka berobat ke Rumah Sakit Carolus misalnya. Lebih parah lagi, sesudahnya harus menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso.

Uraian tentang Supersemar agak panjang dalam buku ini karena itu merupakan titik balik perubahan kekuasaan di republik ini. Bagian lain mempersoalkan kenapa wajah Sukarno pada saat proklamasi kemerdekaan dihilangkan pada sebuah buku yang ditulis sejarawan yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam terjemahan buku Cindy Adams terdapat dua paragraf yang tidak ada pada buku asli dalam bahasa Inggris yang mengadu domba Sukarno dengan Hatta dan Sjahrir. Siapa yang menambahkan dua alinea tersebut? Sidarto juga mengingatkan bahwa Trikora dicanangkan Presiden Sukarno di Yogyakarta dan setelah itu memang terjadi operasi militer, namun peran diplomasi yang dijalankan Sukarno sangat menentukan terutama dengan memainkan kartu Uni Soviet dan Amerika Serikat sehingga Belanda tidak berkutik.

Pada 10 Desember 1967 saat menjadi ajudan presiden yang ketika itu sudah mengalami penahanan, beliau menerima buku dari Bung Karno yang diberi catatan dengan tulisan tangan “Untuk sdr. Sidarto, dalam edisi Indonesia dari buku ini, saya menulis: Man Totet den Geist nicht (Freeiligrath), yang arti(nya): Djiwa, idee, ideologi, semangat, ta’ dpat dibunuh” Sukarno. 10/12-67.

 

Tags: , , , ,

Buku Terkait
Diskusi Produk (0)

Silakan tulis komentar Anda

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja