Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami

Pemasaran
● online
Pemasaran
● online
Halo, perkenalkan saya Pemasaran
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

  • Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
  • Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
  • Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
  • Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
  • Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Beranda » Bahasa dan Sastra » Novel » Seribu Bangau
click image to preview activate zoom
Diskon
15%

Seribu Bangau

Rp 40.800 Rp 48.000
Hemat Rp 7.200
ISBN978-602-14913-6-2
Stok Tersedia
Kategori Novel

Penulis     : Yasunari Kawabata

Tebal         : ix + 145 hlm

Ukuran     : 13 x 19 cm

Penerbit   : Gading Publishing

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Bagikan ke

Seribu Bangau

Waktu dan sejarah barangkali merupakan salah seorang juri yang adil untuk menilai bermutu tidaknya sebuah karya sastra. Jika sebuah novel, cerpen atau puisi, yang telah bertahun-tahun silam ditulis, masih saja memesona dan memikat, serta masih saja menggugah untuk dibaca, bisa dikatakan bahwa karya tersebut ‘hebat’ dan ‘bermutu’. Inilah yang disebut sebagai ‘klasik’: sebuah istilah yang menunjuk pada kebertahanan bahkan mungkin keabadian daya pikat sebuah karya melintasi zaman dan melampaui beberapa generasi pembacanya.

Yasunari Kawabata (1899-1972), pengarang Jepang, yang meraih penghargaan Nobel tahun 1968, bisa dikatakan sebagai salah seorang pengarang dengan novel- novelnya yang bernilai klasik. Hal itu ditunjukkan bahwa hingga sekarang, karya-karyanya masih saja dibaca secara luas, baik di Jepang maupun di luar Jepang. Karir Kawabata terentang sejak tahun 1920an, diselai Perang Dunia II, hingga tahun 196oan. Karya-karyanya terkenal liris, halus, dan sarkartis, menyentuh ruang-ruang dan celah-celah kehidupan antarmanusia yang tidak mungkin dipikirkan dan dibicarakan, tapi nyata adanya.

Di Indonesia, karya-karya Kawabata sudah diterjemahkan sejak tahun 1970an dan mendapat sambutan yang luas, termasuk yang dianggap sebagai adikaryanya Negeri Salju, yang di Indonesia bahkan diterjemahkan dalam beberapa versi. Jika Negeri Salju dipandang sebagai adikaryanya sebelum Perang Dunia II, maka Seribu Bangau yang ada di hadapan pembaca ini diletakkan sebagai adikaryanya setelah Perang Dunia II.

Seribu Bangau berpusat pada upacara minum teh dan cinta tanpa harapan. Tokoh utamanya terpikat pada mantan nyonya ayahnya yang telah meninggal. Setelah kematian sang nyonya, ia kemudian tertarik pada putrinya, yang kemudian juga lari darinya. Upacara minum teh memberikan latar belakang yang memukau untuk tetek bengek permasalahan manusia, tapi maksud Kawabata sebenarnya -menurut para pengamat– adalah untuk menjelajah bagaimana subtilnya perasaan tentang kematian dan kehilangan. Peralatan upacara minum teh bisa abadi, tetapi orang-orang di sekitarnya lemah dan segera pergi. Ada nada incest, cinta mustahil dan kematian. Sang ayah, yang muncul dalam kenangan seorang anak sebagai seorang lelaki tua, yang mengecewakan anak- anaknya dan telah kehilangan seluruh hasrat pada istrinya. Cinta terlarang, bayangan perselingkuhan, dan harapan yang kosong mengisi hari-hari penuh kenangan.

Tags: , ,

Seribu Bangau

Berat 200 gram
Kondisi Baru
Dilihat 2.929 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Periksa
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: