Beranda » Bahasa dan Sastra » Novel » Seribu Bangau

Seribu Bangau

DISKON 15% ISBN: 978-602-14913-6-2 Stok: Tersedia
Berat 200 gram
Kondisi Baru
Kategori Novel
Dilihat 1.160 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan

Seribu Bangau

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja Anda
Lanjut Belanja
Keranjangku
Rp 40.800 Rp 48.000
Hemat Rp 7.200
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Seribu Bangau
Rp 40.800 Rp 48.000
Tersedia / 978-602-14913-6-2
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Buku Seribu Bangau

Penulis     : Yasunari Kawabata

Tebal         : ix + 145 hlm

Ukuran     : 13 x 19 cm

Penerbit   : Gading Publishing

Deskripsi:

Waktu dan sejarah barangkali merupakan salah seorang juri yang adil untuk menilai bermutu tidaknya sebuah karya sastra. Jika sebuah novel, cerpen atau puisi, yang telah bertahun-tahun silam ditulis, masih saja memesona dan memikat, serta masih saja menggugah untuk dibaca, bisa dikatakan bahwa karya tersebut ‘hebat’ dan ‘bermutu’. Inilah yang disebut sebagai ‘klasik’: sebuah istilah yang menunjuk pada kebertahanan bahkan mungkin keabadian daya pikat sebuah karya melintasi zaman dan melampaui beberapa generasi pembacanya.

Yasunari Kawabata (1899-1972), pengarang Jepang, yang meraih penghargaan Nobel tahun 1968, bisa dikatakan sebagai salah seorang pengarang dengan novel- novelnya yang bernilai klasik. Hal itu ditunjukkan bahwa hingga sekarang, karya-karyanya masih saja dibaca secara luas, baik di Jepang maupun di luar Jepang. Karir Kawabata terentang sejak tahun 1920an, diselai Perang Dunia II, hingga tahun 196oan. Karya-karyanya terkenal liris, halus, dan sarkartis, menyentuh ruang-ruang dan celah-celah kehidupan antarmanusia yang tidak mungkin dipikirkan dan dibicarakan, tapi nyata adanya.

Di Indonesia, karya-karya Kawabata sudah diterjemahkan sejak tahun 1970an dan mendapat sambutan yang luas, termasuk yang dianggap sebagai adikaryanya Negeri Salju, yang di Indonesia bahkan diterjemahkan dalam beberapa versi. Jika Negeri Salju dipandang sebagai adikaryanya sebelum Perang Dunia II, maka Seribu Bangau yang ada di hadapan pembaca ini diletakkan sebagai adikaryanya setelah Perang Dunia II.

Seribu Bangau berpusat pada upacara minum teh dan cinta tanpa harapan. Tokoh utamanya terpikat pada mantan nyonya ayahnya yang telah meninggal. Setelah kematian sang nyonya, ia kemudian tertarik pada putrinya, yang kemudian juga lari darinya. Upacara minum teh memberikan latar belakang yang memukau untuk tetek bengek permasalahan manusia, tapi maksud Kawabata sebenarnya -menurut para pengamat– adalah untuk menjelajah bagaimana subtilnya perasaan tentang kematian dan kehilangan. Peralatan upacara minum teh bisa abadi, tetapi orang-orang di sekitarnya lemah dan segera pergi. Ada nada incest, cinta mustahil dan kematian. Sang ayah, yang muncul dalam kenangan seorang anak sebagai seorang lelaki tua, yang mengecewakan anak- anaknya dan telah kehilangan seluruh hasrat pada istrinya. Cinta terlarang, bayangan perselingkuhan, dan harapan yang kosong mengisi hari-hari penuh kenangan.

Kami haturkan Seribu Bangau ini kepada pembaca. Kami harapkan di masa mendatang bisa menerbitkan karyanya yang lain, Senandung Gunung. Terima kasih kepada Sdri. Endah Raharjo yang menerjemahkan novel ini dengan sungguh-sungguh dan baik. Selamat menikmati!

Tags: , ,

Buku Terkait
Diskusi Produk (0)

Silakan tulis komentar Anda

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja