Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami
Pemasaran● online 62882008193627
Redaksi● online 6282328979777
● online
- Pengantar Teori Fiksi
- Ketika Perempuan Papua Harus Memilih
- Islam Sebagai Ilmu: Epistimologi, Metodologi, dan
- Kisah Lima Keluarga: Telaah-telaah Kasus Orang Mek
- Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara Kol
- Ideologi Islam, Barat, dan Amerika; Potret Sejarah
- Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu
- Semesta Tafsir
- Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
- Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
- Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
- Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
- Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Etnografi Jul Jacobs Orang Baduy dari Banten
Rp 68.000 Rp 80.000| ISBN | 978-623-6003-45-9 |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Budaya |
Penulis : Jul Jacobs
Tebal : - hlm
Ukuran : - cm
Penerbit : Manggu
Etnografi Jul Jacobs Orang Baduy dari Banten
Orang Baduy dari Banten etnografi jul jacobs- Buku De Badoej’s, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini dengan judul: Etnografi Jul Jacobs: Orang Baduy dari Banten merupakan bagian tulisan dokter Jul Jacobs yang menempati bagian pertama dari buku De Bodoej’s: Eene Ethnogrophische Schets, yang ia tulis dalam 11 hoofdstuk atau 11 bab.
Bab 1 (Hoofdstuk I) Asal-Usul Pemberian Nama, dalam bab ini terlebih dahulu dikemukakan pendapat berbagai penulis bahwa pemberian nama atau sebutan Baduy itu dapat atau perlu dikaitkan dengan legenda Kerajaan Pajajaran, pandangan orang sekitarnya yang muslim, dan menurut sumber dari kamus bahasa Sunda Rigg.
Bab 2 (Hoofdstuk II) Agama, uraiannya dimulai dengan pernyataan bahwa “Tidak ada seorangpun penulis tentang Baduy yang mengemukakan dengan tegas perihal agama yang mereka anut,” karena itu uraian tentang kepercayaan dan agama akan selalu dikaitkan dengan berbagai hal lainnya. Karena banyak penulis yang mengaitkan agama Baduy dengan agama Buddha, maka Jacobs melajutkan uraian tentang agama ini pada bab-bab lainnya, terutama dikaitkan dengan adat kebiasaan mereka.
Bab III (hoofdstuk III) Agama yang Dikaitkan dengan Adatnya (Lanjutan), uraian dalam bab ini mengemukakan 10 larangan atau tabu menurut bait 25 dari Dhammika sutta, larangan bagi pemeluk agama Buddha. Tampaknya tidak ada agama dominan di wilayah kerajaan Pajajaran walaupun agama Buddha memiliki peranan penting seperti banyak ditemukan fakta di beberapa bagian Jawa Barat.
Bab IV (hoofdstuk IV), Ketua Agama. Huma Serang. Upacara dan Pesta Agama Orang Baduy. Pendapat tentang Sakit, Mati, dan Kehidupan di Alam Baka serta Tanda Alarn Luar Biasa (Lanjutan). Seperti juga halnya dengan bab II dan III, bab IV ini adalah uraian lebih lanjut tentang agama orang Baduy, dengan fokus kepada struktur agama sebagai kepercayaan dan gambaran mereka tentang proses kehidupan.
Bab V (hoofdstuk V) Vegetasi di Sekitar Daerah Baduy – Tatanan Masyarakat – Jalan Menuju ke Daerah Baduy – Kampung dan Organisasi Rumah. Bab ini mulai dengan uraian tentang vegetasi yang tumbuh di hutan dan reuma, tatanan masyarakat Baduy, barulah kemudian kisah perjalanan dalam keadaan memasuki kampung mereka.
Bab VI (hoofdstuk VI), Uraian Antropologi: Keadaan dan Pemeliharaan Kesehatan – Tinjauan tentang Masa Depan Orang Baduy. Jacobs mulai uraian pada bab VI ini dengan mengemukakan bahwa “…., date en anthropornetrisch onderzoek bij de oerang kadjeroan, de Badoej’s, in engeren zin,” karena segala macam pengukuran di dalam daerah suci umumnya, seperti yang mereka kemukakan tidak diperkenankan, begitu Pula sentuhan dengan logam yang asing, bagi mereka merupakan hal yang terlarang (buyut). Atas alasan itu, Jacobs menghormati buyutnya orang Baduy, karena itu ia mengukur apa yang disebutnya “keturunan orang Baduy yang mungkin tidak berbaur dengan orang Sunda Banten. Dalam menjawab pertanyaan apakah sukubangsa seperti itu akan punah ? Jacobs menjawab bahwa, “Sekalipun angka kematian bayi tinggi, mereka yang tetap hidup dan berkembang akan tetap sehat dan kuat serta dapat melanjutkan perjuangan kelangsungan keberadaan suku bangsa tersebut dengan tersedianya syarat-syarat guna mernpertahankan kehidupan.”
Bab VII (hoofdstuk VII), Gambaran tentang Karakter orang Baduy, yang dikesan dari pertemuan dan pemerhatian terhadap raut wajah orang Baduy. Uraian dimulai dengan mengacu kepada ras Melayu, anggapan bahwasanya orang Baduy termasuk ras Melayu Tua. Spaan dan Hoevell mengemukakan karakter dalam kesan kedamaian dan kebaikan tetapi dalam ketenangan – kesederhanaan dan ketidakacuhan.
Bab VIII (hoofdstuk VIII), Kehidupan Rumah tangga dan Keluarga – Kehamilan dan Kelahiran – Pemberian Nama – Gusaran dan Khitanan – Perkawinan: Malam Perkawinan, Tempat Tinggal Pengantin Baru. Uraian dimulai dengan kehamilan, kelahiran, pemberian nama, Gusaran dan Khitanan, Perkawinan, Malam Perkawinan, dan Tempat Tinggal Pengantin Baru.
Bab IX (hoofdstuk IX), Kehidupan Rumahtangga dan Keluarga Pembagian Waktu – Pekerjaan Rumahtangga – Barang Rumahtangga – Hiasan Tangan Khusus – Apa yang Orang Baduy Makan – Gararn Suci (Lanjutan). Bab IX ini lanjutan dari Bab VIII, uraian tentang pembagian waktu, kehidupan rumahtangga dan keluarga, barang rumahtangga, hiasan tangan khusus, dan apa yang orang Baduy makan.
Bab X (hoofdstuk X), Kehidupan Rumahtangga dan Keluarga, madalah bab lanjutan dari 2 bab sebelumnya, bab VIII dan IX, yang mencakup uraiar tentang kegiatan hidup setelah makan siang, kehidupan rumahtangga, meninggal dan pengurusan jenazah, warisan, kehidupan keluarga – peradilan – dan hukum.
Bab XI (hoofdstuk XI), Berbagai Alat Pertanian, Perniagaan dan Perpajakan; yang mengemukakan bahwa kelebihan betas dari huma diizinkan dijual di pasar terdekat dalam bentuk pecah kulit dengan harga yang ditetapkan oleh puun. Diuraikan pula ukuran panjang dan berat menurut sa (sajeungkal, sabatok) dan tanarnan sela, seperti jagung, bonteng huma, ganda, emes, dan taleus.
Tulisan Jul Jacobs itu ditutup dengan lampiran yang terisi Daftar Nama Tumbuhan di Baduy, yaitu 25 jenis pohon kayu; 10 jenis pohon semak- semak; 16 jenis pohon buah-buahan; 9 jenis pohon pagar, 24 jenis sayuran; dan g jenis pohon obat-obatan.
Etnografi Jul Jacobs Orang Baduy dari Banten
| Berat | 300 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 800 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Penulis : Adieb Aji Kurnia Ramadhan Tebal : 126 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Manggu Deskripsi : Jama’ah Ma’iyah lahir di tengah-tengah derasnya arus Modernisasi dan globalisasi. Modernisasi dan globalisasi yang terjadi secara massif sedikit banyaknya telah mengubah tatanan kehidupan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Republik Indonesia. Di sisi… selengkapnya
Rp 46.750 Rp 55.000Penulis : Samsuddin Tebal : xii + 75 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Deepublish Deskripsi : Buku Drama dalam Dimensi Seni Pertunjukan Membicarakan drama dalam dimensi seni pertunjukan pada dasarnya menyangkut 2 hal. Pertama, menyangkut tata usaha, dan kedua berkaitan dengan tata kesenian. Tata usaha berkaitan dengan segala usaha yang dilakukan oleh… selengkapnya
Rp 33.150 Rp 39.000Penulis : Bruno Nettl Tebal : 328 hlm Ukuran : 16 x 24 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Buku ini merupakan salah satu literatur penting dalam bidang etnomusikologi. Meski aslinya diterbitkan tahun 1964 alias tergolong “tua”, namun buku Teori dan Metode dalam Etnomusikologi tetap sangat berguna dalam membantu memahami dasar-dasar bidang Etnomusikologi. Semoga terjemahan… selengkapnya
Rp 85.000 Rp 100.000Sudah bukan rahasia jika ada banyak lokasi sepi di berbagai kampus atau sekolah yang wingit. Di tempat-tempat tersebut, si penunggu biasanya tidak mau diganggu. Kalau ada yang berani macam-macam, mereka pasti akan mengancam! Selain kisah seram dari kampus dan sekolah, buku ini juga memuat cerita horor lain yang disusun berdasarkan kisah nyata dari para saksi… selengkapnya
Rp 57.375 Rp 67.500Penulis : Jamal D. Rahman Tebal : xvi + 216 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Cantrik Pustaka Deskripsi : Tiga layar utama itu berkibar dan bersahutan dari kejauhan: Syekh Nawawi al-Bantani (Islam), Multatuli (sastra), dan Christiaan Snouck Hurgronje (pengetahuan). Bagaimana pergulatan mereka di laut Banten abad ke-19 membentuk masa lalu dan… selengkapnya
Rp 93.500 Rp 110.000Penulis : Riris K. Toha Sarumpaet (editor) Tebal : xvi + 352 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Obor Indonesia Deskripsi : Pertanyaannya, dalam berbicara tentang kehidupan (bersama), haruskah kita sekata? Benarkah Bahasa mempersatukan kita? Adakah budaya yang ragam mempersatukan kita atau –bisa– sebaliknya? Buku ini, seperti berbagai buku lain yang merenungi… selengkapnya
Rp 76.000 Rp 95.000Suwung. Satu kata yang menjadi intisari seluruh ajaran spiritual leluhur Jawa. Suwung, yang bermakna kosong, adalah realitas terdalam kehidupan, sumber penciptaan, yang tenteram-damai sepenuhnya, melampaui suka-duka, sunyi dari gejolak emosi. Leluhur Jawa memahami Tuhan sebagai Suwung, Kemahasadaran dan Kemahakuasaan dalam bentuk kekosongan yang memangku dan meliputi seluruh keberadaan (Suwung hamengku ana). Seseorang yang telah mengalami… selengkapnya
Rp 63.200 Rp 79.000Penulis : Marie-Louise von Franz Tebal : 312 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Ircisod Deskripsi : Pencarian tentang identitas diri sedang melanda kaum perempuan di dunia Barat. Setiap saat, mereka mencari citra yang dapat mendefinisikan identitas diri mereka. Pencarian ini dimotivasi oleh disorientasi dan ketidakpastian mendalam bahwa mereka tidak memiliki wakil… selengkapnya
Rp 68.000 Rp 80.000Penulis : Zulyani Hidayah Tebal : xxii + 470 hlm Ukuran : 15 x 23 cm Penerbit : Obor Indonesia Deskripsi: MOTTO “Binneka Tunggal Ika” – yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia – mempunyai arti bahwa walau masyarakat negeri ini amat beragam dalam berbagai aspeknya, namun tetap satu kesatuan. Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui… selengkapnya
Rp 112.000 Rp 140.000Penulis : Seno Gumira Ajidarma Tebal : 386 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Diva Press Deskripsi : Ini bukan tentang film, melainkan ideologi—sebagaimana tiada yang melebihi film dalam menanggung beban nasionalisme di Indonesia. Sejak pemutaran pertama Darah dan Doa di Istana Merdeka pada 1950; pengalaman Orde Baru yang memisahkan film dari… selengkapnya
Rp 102.000 Rp 120.000



Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.