Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami

Pemasaran
● online
Pemasaran
● online
Halo, perkenalkan saya Pemasaran
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

  • Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
  • Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
  • Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
  • Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
  • Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Beranda » Bahasa dan Sastra » Sastra » Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar
click image to preview activate zoom
Diskon
15%

Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar

Rp 68.000 Rp 80.000
Hemat Rp 12.000
ISBN978-623-6063-29-3
Stok Habis
Kategori Sastra

Penulis     : Saut Situmorang, Okky Madasari, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Ari J. Adipurwawidjana

Tebal         : 300 hlm

Ukuran     : 16 x 23 cm

Penerbit   : Cantrik Pustaka

 

Tentukan pilihan yang tersedia!
HABIS
Maaf, produk ini tidak tersedia.
Bagikan ke

Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar

… ironisnya, giliran kaum Konservatif akhirnya yang menggantikan kaum Liberal dalam memanfaatkan novel Max Havelaar untuk propaganda kebijakan politik mereka setelah mereka tidak berkuasa lagi di Belanda! Dan dalam propaganda kedua partai terbesar di Belanda ini, istilah “demi kepentingan orang-orang pribumi” merupakan slogan yang terus-menerus dipakai. Max Havelaar dengan isinya yang menggambarkan penderi-taan orang-orang pribumi karena kebijakan Cultuurstelsel tentu saja jadi alat propa-ganda yang tak bisa dilewatkan.

— Saut Situmorang

 

Max Havelaar tak berhenti dikaji hingga hari ini dengan segala pendekatan dan teori. Demikian juga dengan berbagai upaya untuk membongkar sosok Multatuli di luar karyanya. Sebagai seorang pegawai pemerintah Belanda yang ditempatkan di negara jajahan, Multatuli adalah bagian dari para penjajah yang bekerja untuk melayani kepentingan penjajah. Walaupun kemudian setelah ia menerbitkan Max Havelaar, ia memutuskan untuk mengundurkan diri daripada dipindahtugaskan, tetap tak menghapus fakta bahwa Multatuli bekerja untuk kepentingan kolonial.

— Okky Madasari

 

Keperpihakan terhadap penindasan baik dalam wujud sikap dan gagasan antikolo-nialisme maupun antifeodalisme dan mesianisme itu tecermin salah satunya dalam fragmen “Saidjah dan Adinda”. Fragmen ini menggambarkan sebuah kekecewaan, diskriminasi, dan humanisme yang juga dapat ditemui dalam konteks sejarah sosial petani dalam periode tanam paksa pun demikian masih relevan dalam periode liberal.

— Rhoma Dwi Aria Yuliantri

 

Jika Max Havelaar dipandang sebagai semacam gugatan terhadap kolonialisme Belanda, episode ini seakan-akan berfungsi sebagai kesaksian langsung subjek Jawa. Dalam wacana teoretis tentang kondisi kolonial, advokasi merupakan konsep yang problematis karena terkait dengan masalah politik representasi. Advokasi, berdasarkan definisi dasarnya, merupakan upaya untuk berbicara dan bertindak untuk dan atas nama pihak lain.

—Ari J. Adipurwawidjana

 

Tags: ,

Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar

Berat 400 gram
Kondisi Baru
Dilihat 1.383 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Periksa