Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami
Pemasaran● online 62882008193627
Redaksi● online 6282328979777
● online
- Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
- Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
- Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
- Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
- Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi
Rp 38.250 Rp 45.000| ISBN | 978-979-16776-2-2 |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Budaya |
Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi
Penulis : Bambang Rudito
Tebal : xx + 202 hlm
Ukuran : 14,5 x 21 cm
Penerbit : Gading Publishing
Deskripsi :
Dalam konteks studi antropologi di Indonesia, kajian-kajian tentang kelompok suku bangsa minoritas tampaknya telah banyak ditinggalkan para peneliti kita. Sekarang banyak peneliti antropologi yang memusatkan penelitian kepada kajian masyarakat perkotaan dan kehidupan sosial pedesaan sebagai akibat dari dampak pembangunan Indonesia yang dianggap tidak adil dan merata. Dalam konteks ini kajian ini telah memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia antropologi Indonesia, khususnya kajian etnografi. Keunggulan utama dari tulisan ini adalah kajiannya yang mendalam tentang keyakinan dan pandangan hidup masyarakat Mentawai, yang belum pernah diungkapkan sebelumnya oleh banyak antropolog kita.
Prof. Dr. Parsudi Suparlan (Guru Besar Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia)
Buku yang ditulis oleh saudara Bambang Rudito ini adalah buku yang berisi uraian yang sangat langka dan jarang diterbitkan pada masa sekarang. Banyak keunggulan dari buku ini yang penting sekali sehingga layak untuk diterbitkan dan dipublikasikan kepada khalayak banyak. Keunggulan utama dari tulisan ini adalah kajiannya yang mendalam tentang keyakinan dan pandangan hidup masyarakat Mentawai, yang belum pernah diungkapkan sebelumnya oleh banyak antropolog kita. Buku ini menjadi nilai tambah yang penting dalam kajian etnografi di Indonesia.
Saat ini sangat jarang dilakukan kajian etnografi sukubangsa- sukubangsa minoritas secara mendalam. Dalam konteks studi antropologi di Indonesia, kajian-kajian tentang kelompok sukubangsa minoritas tampaknya telah banyak ditinggalkan para peneliti kita. Sekarang banyak peneliti antropologi kita yang memusatkan penelitian kepada kajian masyarakat perkotaan dan kehidupan sosial pedesaan sebagai akibat dari dampak pembangunan Indonesia yang dianggap tidak adil dan merata. Dalam konteks ini kajian ini telah memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia antropologi Indonesia, khususnya kajian etnografi.
Kajian tentang kelompok sukubangsa minoritas dalam konteks sekarang bukanlah penelitian yang sifatnya hanya memotret atau mendeskrispsikan unsur-unsur kebudayaan kelompok sukubangsa minoritas, namun lebih kepada bagaimana menjelaskan dinamika kehidupan kelompok sukubangsa minoritas tersebut dalam konteks kehidupan sekarang. Indonesia adalah bangsa yang mempunyai bentuk masyarakat majemuk, sebuah masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok sukubangsa yang berbeda, yang diikat oleh suatu aturan negara sebagai acuan utamanya dan mengarah pada bentuk masyarakat yang multikulur.
Sebagai masyarakat majemuk, Indonesia mempunyai pranata yang bersifat nasional, sukubangsa, dan pranata lokal. Pranata nasional berfungsi dalam kaitan dengan kebutuhan pelayanan administrasi publik yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan pranata sukubangsa ada dan berlaku dalam kehidupan kekerabatan dan keluarga. Pranata lokal ada dalam tatanan kehidupan masyarakat lokal setempat yang ada di tempat-tempat umum dimana ia berfungsi sebagai jembatan antar para warga yang mempunyai latar belakang sukubangsa yang berbeda. Pranata lokal ini berdasarkan kebudayaan lokal setempat, sebagai sistem acuan dalam berhubungan. Dalam konteks masyarakat majemuk, masyarakat Indonesia juga mempunyai tiga bentuk kebudayaan yang menjadi acuan bagi warganya yaitu kebudayaan nasional, kebudayaan sukubangsa, dan kebudayaan lokal setempat. Dalam kajiannya mampu menunjukkan secara mendalam keterkaitan hubungan antara kebudayaan nasional dan pranata sosial, baik yang ada di tingkat nasional, sukubangsa, dan lokal dengan keyakinan dan pandangan hidup masyarakat Mentawai.
Kelompok-kelompok sukubangsa minoritas telah banyak mengalami penderitaan sebagai akibat dominasi negara yang terlalu kuat terhadap semua sendi kehidupan mereka. Kebudayaan- kebudayaan yang berkembang sesuai dengan sukubangsa ternyata tidak dianggap serius oleh negara. Kebudayaan tersebut telah digantikan kebudayaan daerah dimana ia dapat dianggap sebagai suatu produk dari sistem nasional dan dibuat hanya demi kepentingan negara semata. Implikasi kuat dari proses penyeaagaman tersebut adalah penyeragaman kebudayaan sukubangsa untuk menjadi sama. Penyeragaman kebudayaan ini kemudian menyebabkan kebudayaan sukubangsa, termasuk di dalamnya kebudayaan kelompok sukubangsa asli menjadi terbelakang dan tersudut.
Permasalahan utama yang dikemukakan oleh saudara Bambang Rudito dalam kajiannya adalah bagaimana sesungguhnya keyakinan keagamaan masyarakat Mentawai sangat berperan menjadi acuan menghadapi perubahan-perubahan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial yang ada di sekitarnya. Kebudayaan Mentawai seperti dijelaskan, mengalami banyak tekanan dari dominasi negara dan kelompok-kelompok sukubangsa yang dominan. Setelah reformasi ada titik balik bagi mereka untuk berbuat lebih banyak buat kelompok sukubangsanya. Bagaimana sesungguhnya orang-orang Mentawai ingin berperan dalam pembangunan dan bermain dalam arena politik lokal, bagi saya menarik untuk diamati.
Agama secara mendasar dan umum menurut saya dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Namun dalam menginterpretasi dan memahami makna- makna yang terkandung dalam ajaran-ajaran di dalam teks suci, para pemeluk agama yang bersangkutan menggunakan kebudayaan mereka sebagai acuan. Sadar atau tidak sadar, hasil interpretasi mereka itu menjadi bagian dari sistem-sistem pengetahuan dan keyakinan, atau kebudayaan, yang telah mereka punyai mengenai diri mereka dan dunia atau lingkungan tempat mereka hidup, dan sadar atau tidak sadar hasil interpretasi mereka itu menjadi bagian dari sistem-sistem pengetahuan dan keyakinan, atau kebudayaan yang telah mereka punyai mengenai diri mereka dan dunia, atau lingkungan tempat mereka hidup, dan sadar atau tidak sadar hasil-hasil interpretasi mereka itu menjadi keyakinan keagamaan yang menjadi pedoman sakral atau suci dari kebudayaan, atau bagi kehidupan mereka. Dengan kata lain, hasil interpretasi mereka yang terwujud sebagai keyakinan keagamaan tersebut menjadi kebudayaan yang telah mereka punyai. Kita dapat mengatakan keyakinan keagamaan sebagai kebudayaan, pada waktu kebudayaan didefinisikan sebagai pedoman bagi kehidupan yang berisikan pengetahuan dan keyakinan-keyakinan, yang digunakan untuk menghadapi lingkungan dan segala isinya, untuk dapat dimanfaatkan oleh para pelakunya dalam memenuhi kebutuhan- kebutuhan hidupnya sebagai manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, pendukung suatu kebudayaan dapat saling memahami dengan menggunakan simbol-simbol yang mereka gunakan dalam dan melalui komunikasi yang berlaku dalam kehidupan sosial mereka. Sedangkan simbol-simbol suci atau sakral, digunakan dalam kehidupan keagamaan ketika manusia berhubungan dengan Tuhannya atau dunia gaib yang menjadi bagian dari kepercayaan imannya. Dalam kajiannya, saudara Bambang Rudito menunjukkan bahwa pranata sosial yang menyeluruh yang mengacu kepada keyakinan dan pandangan hidup akan sulit mengalami perubahan dan akan tetap dipakai sebagai acuan dalam menginterpretasikan lingkungannya meskipun lingkungannya mengalami perubahan. Hal ini digambarkan secara mendalam pada upacara bebeitei uma yang dilakukan oleh Orang Mentawai. Upacara bebeitei uma mempunyai fungsi yang sentral dalam kebudayaan Orang Mentawai. Fungsi upacara tersebut adalah mengingatkan kembali orang Mentawai akan aturan-aturan dan norma nenek moyangnya. Dengan konteks reformasi dan pembangunan jatidiri mereka setelah sekian lama didominasi oleh negara dan kelompok sukubangsa dominan lainnya, maka upaaara bebeitei uma mempunyai nilai yang sangat penting. Tidak hanya berfungsi secara religi tetapi juga mempunyai fungsi sosial politik, yaitu sebagai penegasan jatidiri. Bahkan menurut saudara Bambang Rudito, upacara bebeitei uma ini juga dilakukan oleh kelompok sukubangsa lainnya untuk bisa diterima oleh masyarakat Mentawai. Dalam konteks ini memang demikian seharusnya kajian etnografi yang baik, mampu menangkap dan memotret, serta menjelaskan makna-makna hubungan antara fenomena yang satu dengan yang lain secara holistik dan komprehensif.
Tulisan ini sangat berguna untuk diketahui bagaimana sebuah keyakinan dan pandangan hidup yang ada dalam kebudayaan suatu sukubangsa tertentu yang diwujudkan dalam sebuah upacara dipakai untuk menangkal dan beradaptasi dengan perkembangan kebudayaan dari luar lainnya, sehingga pendukung dari kebudayaan tertentu tersebut dapat hidup langgeng dalam arena kebudayaannya sendiri, dan dipakai sebagai sebuah sarana mewujudkan identitas kesukubangsaannya. Memang untuk mewujudkan tulisan ini perlu kesabaran yang berangkat dari sebuah penelitian yang mendalam dan partisipatif, dan penguasaan teori-teori serta konsep dan metodologi yang mendalam. Saudara Bambang Rudito telah menunjukkan kesemuanya itu, sehingga saya merasa bangga bahwa masih ada orang Indonesia yang berusaha untuk mengetahui secara mendalam dan sekaligus menjelaskannya dalam konteks kekinian tentang kebudayaan sukubangsa-sukubangsa di Indonesia.
Tags: budaya, gading publishing, mentawai
Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi
| Berat | 250 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 3.214 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Penulis : Prapto Yuwono Tebal : x + 186 hlm Ukuran : 14 x 21 cm Penerbit : Tiara Wacana Deskripsi : Manusia Jawa memiliki kekayaan ajaran tentang kesalehan hidup. Sekalipun demikian, sering terjadi salah tafsir mengenai ajaran-ajaran tersebut. Ajaran kejawen yang menjadi akar dari filosofi spiritualitas Jawa misalnya, bukan saja terabaikan, bahkan… selengkapnya
Rp 45.600 Rp 57.000Aksara Serang adalah salah satu variasi dari aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan pada zaman kedatangan tamadun Islam mulai sekitar abad ke-17. Buku ini akan menjawab pertanyaan pokok: bagaimanakah proses perkembangan aksara-aksara di dunia ini, sehingga aksara Arab dipinjam ke masyarakat Sulawesi Selatan? Bagaimanakah perhubungan aksara Serang dengan… selengkapnya
Rp 51.000 Rp 60.000Penulis : Musyair Zainuddin Tebal : 182 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Minangkabau terkenal melalui adatnya dengan sistem kekerabatan matrilineal yang hampir hanya satu-satunya ada di Nusantara, maupun dunia luar. Minangkabau dan adatnya ibarat dua sisi mata uang yang merupakan satu kesatuan. Adat yang diwarisi hingga saat ini… selengkapnya
Rp 51.000 Rp 60.000Pidato kebudayaan Mochtar Lubis (1977) di Taman Ismail Marzuki (TIM) diterbitkan menjadi buku berjudul Manusia Indonesia. Karena gaya dan sikapnya yang lugas dalam mengupas terutama sifat-sifat negatif orang Indonesia, buku ini menimbulkan pendapat pro dan kontra, selain membangkitkan pemikiran kritis tentang manusia Indonesia. Sifat-sifat manusia Indonesia yang dimaksud ialah munafik, tidak mau bertanggungjawab, berperilaku feodal,… selengkapnya
Rp 56.000 Rp 70.000Pada satu tahun setelah Reformasi 1998, Wahyudin, seorang pemelajar antropologi, mendapati kenyataan mengejutkan: seni rupa kontemporer Indonesia benar-benar tak terjamah pengkaji dan peneliti antropologi di republik ini. Atas kenyataan itulah, dari pengalaman dan sudut pandang pemelajar antropologi dan penghayat seni rupa kontemporer Indonesia, buku ini terbit bersandar pada kebijaksanaan Nestor Garcia Canclini bahwa untuk memahami… selengkapnya
Rp 80.750 Rp 95.000Kisah horor yang selama ini beredar di Indonesia cenderung didominasi oleh kategori hantu dan paranormal. Padahal, cerita horor Indonesia, khususnya dari tanah Jawa, sebenarnya cukup beragam dan tidak hanya memuat dua kategori tersebut. Buku ini sengaja dihadirkan untuk memperluas mindset tersebut, yaitu dengan menyajikan berbagai kategori kisah mistik, khususnya yang berasal dari tanah Jawa. Cerita… selengkapnya
Rp 59.075 Rp 69.500Penulis : Garin Nugroho Tebal : 242 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Gading Publishing Deskripsi : Melodrama dalam kajian budaya telah melewati batas-batas genre dan fiksi, bertumbuh menjadi cara pandang, cara kerja dan cara bereaksi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bersikap terhadap situasi puncak… selengkapnya
Rp 59.500 Rp 70.000Penulis : Berthold Damshauser Tebal : 284 hlm Ukuran : Penerbit : Diva Press Deskripsi : Buku ini merupakan bungai rampai tulisan Berthold Damshäuser, seorang Indonesianis dari Universitas Bonn di Jerman. Maka, tak terlalu mengherankan jika berbagai dari tulisannya adalah penelitian akademis yang bermutu tentang bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Yang mengherankan, juga memesonakan, adalah… selengkapnya
Rp 59.500 Rp 70.000Indies dengan pengaruh besar Britpop menemui surut setelah pasang sejak 1995 sampai 1999. Memasuki milenium ketiga, indie pop menjadi salah satu referensi baru di kancah musik. Ia menjadi pilihan lain bagi mereka yang berniat mencari jejak Britpop. Indie pop juga menghadirkan episode baru dari perkembangan skena indie di Bandung.
Rp 106.250 Rp 125.000Penulis : Yance Z Rumahuru Tebal : 121 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Buku tipis tapi penting ini menunjukkan bagaimana modal sosial yang ada di Kota Ambon dan Kota Tual berhasil membangun kembali kerukunan masyarakat pascakonflik di dua kota itu. Saya terkesan dengan kejelian penulisnya dalam menangkap berbagai… selengkapnya
Rp 38.250 Rp 45.000



Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.