● online
- Filsafat Peripatetik Islam Ibnu Sina....
- Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna....
- From Zero to a Pro: Pemrograman C+cd....
- Semiotika dan Hipersemiotika: Kode Gaya dan Matiny....
- Pembangunan Berkelanjutan dari MDGs ke SDGs Edisi ....
- The Lawyers: Pokrol Bambu....
- Memaknai Wayang dan Gamelan....
- Pemodelan Berbasis Individu untuk Konservasi Satwa....
- Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
- Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
- Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
- Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
- Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Jalan ke Tanah Leluhur; Refleksi dari Bali Menuju Papua
Rp 102.000 Rp 120.000| ISBN | 978-623-305-477-5 |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Puisi |
Penulis : I Ngurah Suryawan
Tebal : 344 hlm
Ukuran : 13 x 20 cm
Penerbit : Basabasi
Jalan ke Tanah Leluhur; Refleksi dari Bali Menuju Papua
Engko Pasek Tamblingan, jani jan pejah engko, mai engko nunas Wisnu engko (Kalian Pasek Tamblingan, jika kalian mati/sakit, kemarilah untuk memohon air kehidupan).
(Babad Kandan Sanghyang Merta Jati lembar ke-83a)
Muman mingil kai bekhel smetwat
Yus yata timtom fofuso
Nu manggi uwel nekwaukhu
Semfat yemse takhul yen
Nasa aya khwas
[Jalan ke tanah leluhurku tidak dirawat,
Sudah ditumbuhi oleh semak belukar,
Ibarat anak yatim piatu yang tidak punya mama bapa]
Mu Man Minggil (Jalan ke Tanah Leluhur)
Ciptaan: Willem Giryar
Membaca karya-karya Kaka Ngurah selalu memberi saya perasaan yang bercampur-aduk. Ada marah, sedih, kaget, kecewa dan banyak lagi. Sebagai perempuan Papua, ketika membaca buku tentang Papua, selalu ada rasa penasaran pada diri saya mengenai apakah para penulis juga menulis tentang pandangan perempuan Papua atau membagikan cerita perjuangan perempuan Papua. Kaka Ngurah tidak mengecewakan. Beliau selalu berusaha untuk menulis cerita perempuan Papua; menghadirkan pandangan feminis ke dalam permasalahan bersifat maskulin di Tanah Papua. Jalan ke Tanah Leluhur berarti kembali ke “Mama”.
Gispa Ferdinanda Warijo
Departemen Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada
Sa Perempuan Papua
Jalan ke Tanah Leluhur; Refleksi dari Bali Menuju Papua
| Berat | 350 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 300 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Penuli : Isbedi Stiawan Zs Tebal : 96 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Basabasi Deskripsi : belum kau sebut nama kota saat kita bertemu. aku sudah lupa, sebab begitu banyak aku jumpa orangorang di kotakota berbeda. … beri tahu aku nama kota itu dulu aku pernah bertamu lalu kau sambut bibir… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000Penulis : Usman Arrumy Tebal : 84 hlm Ukuran : Penerbit : Diva Press Deskripsi : Aku ingin jadi mata waktu Yang tahu cara memandang rindu Dengan denyut doa di jantung ibu Ibu meminjamiku mata Untuk melihat kehilangan Dan membalasnya dengan kehadiran Ibu meminjamiku waktu Untuk merangkai hidup Dengan penuh degup Aku ingin jadi mata… selengkapnya
Rp 51.000 Rp 60.000Penulis : Abdul Wachid B.S. Tebal : 102 hlm Ukuran : 14 x 20 cm Penerbit : Basabasi Deskripsi : Kita tidak sedang memperdebatkan, lebih dulu mana antara cinta dan pengetahuan. Bagi Erich Fromm yang sesungguhnya jauh hari sebelumnya sudah diungkap oleh Imam al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘ulumuddin, memang cinta selalu didahului oleh pengetahuan sebab… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000Puisi itu adalah permainan bunyi. Tanpa memahami aspek bunyi dengan baik maka sulit seorang penyair dapat mencipta puisi dengan bunyi indah, merdu, dan berkualitas. Selain itu, sebagai penikmat karya sastra kita juga perlu mengenal unsur-unsur bunyi dalam puisi agar dapat memahami puisi lebih dalam, nikmat, dan terarah. Buku ini berisi penjelasan singkat secara sistematis mengenai… selengkapnya
Rp 148.580 Rp 174.800Penulis : Rendra Setyadiharja Tebal : viii + 138 hlm Ukuran : 17,5 x 25 cm Penerbit : Textium Deskripsi : “Pantun bukan hanya sekedar karya sastra yang masuk dalam katagori genre puisi lama. Pantun bukan hanya sekedar warisan budaya yang menjadi bahagian dari tradisi dan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat rumpun melayu. Pantun adalah hujjah…. selengkapnya
Rp 89.080 Rp 104.800Penulis : Muhammad Ibraim Salim Tebal : 376 hlm Ukuran : 16 x 24 cm Penerbit : Diva Press Deskripsi : “Kemampuan Imam Syafi’i dalam bidang bahasa, sastra, dan syair benar-benar diakui oleh para pakar bahasa dan sastrawan ulung. Sebagaimana kehebatan Syafi’i di bidang fiqh, hadits, dan ushul fiqh.” (Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam al-Indunisi;… selengkapnya
Rp 85.000 Rp 100.000Mulut dan jariku memainkan suling Tapi kalah pada rohku yang melengking Ketika mataku melihat Merapi Ditandingi bayang-bayang yang menjulangi langit yang tinggi Tapi di tengah kenyataan ini Aku makin kecil makin bebal Seharkat sebutir debu yang melekat telapak sandal Mengaji Bukit Mengeja Danau merupakan buah dari program Rumah Puisi untuk mengundang sastrawan tamu. Karya ini… selengkapnya
Rp 49.300 Rp 58.000Ini adalah kisah cinta yang sangat lembut, yang berdetak keras melawan tabu tradisi Timur. Dengan kepekaan yang tinggi, Gibran menggambarkan hasratnya sebagai seorang pemuda untuk Salma Karami, gadis Beirut yang pertama kali mengungkapkan kepadanya rahasia-rahasia cinta. Tapi itu adalah cinta yang ditakdirkan oleh konvensi sosial yang memaksa Salma menikah dengan pria lain. Menggambarkan kebahagiaan dan… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000Sifat lirik yang lebih pekat—dengan kata lain, kadar puisi yang besar, menghasilkan sajak-sajak indah, misalnya sajak Elegi, Sajak, Ibu dan Aku Kini Doa. Sajak-sajak itu tidak mengarahkan perhatian kepada satu pokok, akan tetapi mampu membuka pikiran, perasaan dan khayal kita untuk menghayati suatu wilayah pengalaman yang luas. Ini tidak mungkin terjadi kalau bahasa sajak-sajak itu… selengkapnya
Rp 46.750 Rp 55.000terlentang ke arah matahari. tanah subur. mata mengerjap ditimpa sinar. menakar kedalaman, menanam benih, –terbayang bunga mekar bergetar, buah berguncang. tegalan gembur. begitu gegap kita garap. bagai gemuruh musim hujan, kita sergap- menyergap. –“terus, benam lebih dalam,” katamu menatap rindang. ya, aku paham. * Puisi-puisi dalam buku ini—sebagaimana kebanyakan tumpuan artikulasi puisi Aslan Abidin—menggarap arena… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000




Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.