Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami

Pemasaran
● online
Pemasaran
● online
Halo, perkenalkan saya Pemasaran
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

  • Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
  • Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
  • Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
  • Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
  • Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Beranda » Sosial Politik » Sosial » Sosiologi Garam: Deindustrialisasi, Perlawanan, dan Nasib Petani di Madura
click image to preview activate zoom
Diskon
15%

Sosiologi Garam: Deindustrialisasi, Perlawanan, dan Nasib Petani di Madura

Rp 89.250 Rp 105.000
Hemat Rp 15.750
ISBN978-623-6063-87-3
Stok Tersedia
Kategori Sosial

Penulis     : Huub de Jonge

Tebal         : 264 hlm

Ukuran     : 14 x 20 cm

Penerbit   : Cantrik Pustaka

 

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Bagikan ke

Sosiologi Garam: Deindustrialisasi, Perlawanan, dan Nasib Petani di Madura

Sepanjang 150 tahun produksi garam di Madura, khususnya Sumenep, selama itu pula para petaninya berjuang melawan mendapat tempat sentral dalam “perbudakan”-istilah yang dialami mereka selama menjadi buruh garam dari generasi ke generasi. Sempat menjadi produsen utama kebutuhan garam dunia pada awal abad ke-20, kini komoditas garam Madura berada di kaki langit senja.

Industrialisasi garam warisan pemerintah Hindia Belanda yang terus dilestarikan oleh pemerintah Indonesia dari Orde Lama hingga Reformasi melalui kebijakan kontrol produksi, pachtstelsel, zoutregie, dan monopoli itu telah melahirkan perlawanan panjang dari petani mereka sendiri dalam rupa-rupa cara: dengan kata dan tindakan; secara terbuka maupun diam-diam; individual dan kolektif; lokal dan regional; insidental dan struktural; dengan damai dan dengan kekerasan.

Meskipun pada kenyataannya tidak berhasil, perlawanan tersebut berdampak besar pada terjadinya deindustrialisasi yang bukan hanya memerosotkan produksi garam, melainkan juga menciptakan formasi sosial masyarakat pegaraman yang marginal, miskin, dan rentan karena ketegangan terus-menerus dengan pemerintah yang tidak pernah memberikan keberpihakannya.

Saya sangat menikmati membaca buku ini dari permulaan sampai bagian terakhir. Saya terkesan tidak hanya dengan isinya, tetapi juga strukturnya, serta relevansi ilmiah dan sosial dari studi ini. Penulis berhasil membuat keseimbangan yang baik antara konsep teoritis serta data historis dan empiris. Cara penulis mengumpulkan dan mengombinasikan data dari sumber primer, seperti observasi partisipan dan wawancara, dengan data dari sumber tertulis, seperti studi kepustakaan dan laporan pemerintahan, layak mendapatkan semua pujian. Studi ini mengandung banyak data baru dan pendapat yang penting. Tidak diragukan lagi, studi ini telah memberikan sumbangan sangat penting bagi diskursus tentang perobahan sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat pegaraman di Madura dari akhir waktu kolonial sampai saat ini.

Huub de Jonge, dalam Pengantar Buku.

Tags: ,

Sosiologi Garam: Deindustrialisasi, Perlawanan, dan Nasib Petani di Madura

Berat 300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 1.251 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Periksa
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: