Beranda » Bahasa dan Sastra » Sastra » La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2

La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2

DISKON 20% Stok: Tersedia
Berat 700 gram
Kondisi Baru
Kategori Sastra
Dilihat 739 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan

La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja Anda
Lanjut Belanja
Keranjangku
Rp 128.000 Rp 160.000
Hemat Rp 32.000
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Pesan Langsung
La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2
Rp 128.000 Rp 160.000
Tersedia
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Produk La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2

Penulis     : Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa (editor)

Tebal         : xx + 544 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi:

Ketika Batara Lattuq telah menjadi dewasa, tiba saatnya untuk mencari permaisuri. Sayangnya tak satu pun orang di negeri Luwuq yang memiliki darah yang sederajat dengannya. Alangkah gusar hati Batara Guru bersama Wé Nyiliq Timoq memikirkan tentang putranya. Akhirnya Wé Nyiliq Timoq turun ke Pérétiwi untuk meminta pertimbangan orang tuanya di kerajaan bawah laut. Sayangnya apa yang diharapkannya tidak diperoleh, sehingga Batara Guru memutuskan naik ke Boting Langiq untuk meminta Patotoqé mewujudkan keinginan Batara Lattuq. Patotoqé pun menyarankan  agar Batara Lattuq berlayar ke Tompoq Tikkaq untuk menemukan jodoh yang sederajat.

Kisah ini diawali dengan keberangkatan Batara Lattuq melalui pelayaran dan petualangan yang penuh tantangan. Ketika tiba di Tompoq Tikkaq, didapatinya dua anak yatim piatu, Wé Adi Luwuq dan Wé Datu Sengngeng bersama inang pengasuhnya, hidup dalam penderitaan di istana yang telah dirampas seluruh isinya. Batara Lattuq mengajukan lamaran ke Wé Datu Sengngeng sesuai pesan  Patotoqé, tapi pinangan itu ditolak inang pengasuh karena merasa anak asuhnya tidaklah pantas diperistri oleh sang raja akibat kemiskinan dan penderitaannya. Batara Lattuq, tidak peduli dengan keadaan sang putri, ia memperbaiki istana Wé Datu Sengngeng yang telah rusak dan kosong.

Sementara bibi jahat dihukum dan seluruh harta yang telah dirampasnya dikembalikan kepada kedua anak yatim piatu itu. Pesta perkawinannya pun berlangsung berhari-hari, dan tak henti-hentinya harta benda diusung naik ke istana dari perahu-perahu Batara Lattuq yang jumlahnya tak terhitung. Sesudah pesta Batara Lattuq berlangsung, saudara Wé Datu Sengngeng,  Wé Adiluwuq menikah pula dengan I La Jiriu, sepupu Batara Lattuq yang turun bersamanya dari Boting Langiq.

Tak berapa lama sesudah pesta berlangsung, sang putri pun diboyong kembali ke Tanah Luwuq tempat orang tuanya bertahta dan berkuasa.

Sepuluh bulan setelah pasangan ini bermukim di Luwuq, pada suatu malam Wé Datu Sengngeng bermimpi mengarungi laut dan menyaksikan sebuah keranjang emas yang tergantung pada bianglala, berisi sebuah telur, langsung turun di hadapannya. Wé Datu Sengngeng lalu duduk di atas keranjang tersebut, telur tersebut pecah, keluarlah dua ekor anak ayam, jantan dan betina. Yang betina naik ke Dunia Atas di istana Boting Langiq, sedang yang jantan terbang ke berbagai negeri jauh. Keesokan paginya ketika terbangun, Wé Datu Sengngeng kaget dan  bingung,  dan menurut mertuanya, Wé Nyiliq Timoq, mimpi tersebut merupakan isyarat bahwa ia akan melahirkan dinru laweng, anak kembar emas, yaitu seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Putranya akan mengunjungi negeri-negeri jauh, sedangkan putrinya akan naik ke Boting Langiq.

Sementara Wé Adiluwuq (saudara Wé Datu Sengngeng) dan I La Jiriu juga  dikaruniai anak kembar emas, yaitu Pallawa Gauq dan Wé Tenrirawé.

 

Tags: ,

Produk Terkait
Diskusi Produk (0)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja