Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami
Pemasaran● online 62882008193627
Redaksi● online 6282328979777
● online
- Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
- Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
- Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
- Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
- Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Pelabuhan Kupang dalam Perdagangan Abad Ke-19
Rp 29.750 Rp 35.000| ISBN | 978-602-258-152-9 |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Sejarah |
Penulis : I Putu Kamasan Sanjaya
Tebal : 108 hlm
Ukuran : 14,5 x 21 cm
Penerbit : Ombak
Pelabuhan Kupang dalam Perdagangan Abad Ke-19
Pelabuhan Kupang yang terletak di bagian Barat Pulau Timor merupakan salah satu pelabuhan paling strategis di pulau Timor. Telah sangat lama Kupang menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Timor sejak abad ke-13. Berdasarkan sumber berita Cina Chau Yu Kua dalam bukunya Chu fan sih pada tahun 1225 menyebutkan pulau Timor yang disebut dengan nama Kihri Tinwu yang terletak di sebelah timur Tiongkalo, para raja dan keluarganya memperoleh kemakmuran dari perdagangan cendana.
Karena pentingnya letak strategis pelabuhan Kupang, maka sangat logis apabila pelabuhan Kupang menjadi incaran persaingan terutama setelah datangnya bangsa Barat. Persaingan antara Portugis dan VOC berlanjut tidak saja memperebutkan pelabuhan dan benteng tetapi juga wilayah pendukungnya sebagai sumber perdagangan cendana. Persaingaan secara berantai melalui serangkaian pertempuran berlangsung hampir satu abad. Pertempuran berakhir setelah pecah Perang Penfui tahun 1749. VOC berhasil mengalahkan kekuasaan Portugis dan sekutunya para raja di pedalaman. Sejak saat itu peran Portugis surut dan tergusur ke pedalaman.
Sebagai sebuah pelabuhan dan dilengkapi dengan Benteng, kemudian tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Terdapat beberapa kebijakan yang menyangkut Kupang dan Pelabuhan Kupang pada masa residen pertama J.A.Hazaart. Beberapa kebijakan tersebut adalah: pembentukan daerah penyangga bagi Kupang pada tahuh 1819 dalam rangka pengamanaan Kupang. Pembentukan daerah penyangga dimaksudkan karena Kupang selalu mendapat ancaman dari para raja pedalaman yang masih bersekutu dengan Portugis.
Dalam perkembangan kemudian pelabuhan Kupang yang menghadap ke laut terbuka di Teluk Kupang pada musim angin Barat, membuat kapal-kapal yang bersandar menghadapi terpaan angin yang kencang sehingga kapal-kapal harus berlindung di Mud Volcano di dekat Teluk Kupang. Namun pada tahun 1866 Mud Vocano tersebut rusak akibat erosi sehingga pada musim angin Barat kapal-kapal berlindung ke Pantai Hansisi di Pulau Semau. Atas pertimbangan evisiensi akhirnya pemerintah kolonial di Kupang merasa perlu membangun pelabuhan untuk tempat berlindung yang lebih aman dan dapat langsung dihubungkan dengan Kupang. Maka dibangun Pelabuhaan Tenau pada tahun 1875, serta untuk kelancaran hubungan dengan Kupang juga dibangun jalan raya. Dengan dibangunnnya pelabuhan Tenau Kupang maka secara berangsunr-angsur peran pelabuhan Kupang yang telah berlangsung beberapa abad menjadi surut dan digantikan oleh pelabuhan Tenau Kupang. Namun Kupang tetap berperan sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan.
Munandjar Widiyatmika, sejarawan NTT
Tags: ombak, pelabuhan kupang, penerbit ombak, sejarah
Pelabuhan Kupang dalam Perdagangan Abad Ke-19
| Berat | 100 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 3.758 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Penulis : Sri Margana & Widya Fitrianingsih Tebal : 632 hlm Ukuran : 16 x 24 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Perspektif global sangat diperlukan dalam penulisan sejarah Indonesia, paling tidak untuk dua tujuan utama. Pertama, untuk mengintegrasikan historiografi Indonesia ke dalam historiografi dunia. Integrasi historiografi ini penting untuk mengimbangi pemahaman orientalistik dan mengakhiri… selengkapnya
Rp 127.500 Rp 150.000Buku ini tidak persis berbentuk polemik seperti yang berlangsung antara Soedjatmoko dengan Boejoeng Saleh, yang merupakan artikel berbalas artikel. Bukan pula polemik seperti yang terjadi antara BM. Diah (Merdeka) dengan Njoto (Harian Rakjat). Atau antara sastrawan yang dicap kelompok Manikebu dengan Lekra. Tetapi kumpulan tulisan antara dua orang sejarawan Indonesia yang sebagian pendapatnya bertentangan dan… selengkapnya
Rp 34.000 Rp 40.000Penulis : Endah Sri Hartatik Tebal : 376 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Nurmahera Deskripsi : Buku ini mengupas tentang sejarah transportasi Jalan Raya Pantai Utara Jawa dengan fokus pada Pantai Utara Jawa Tengah. Pemilihan fokus Jawa Tengah karena hanya wilayah ini yang memiliki akar kronologis yang lebih panjang tentang perkembangan… selengkapnya
Rp 80.750 Rp 95.000Penulis : J.H. Neumann Tebal : 92 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Terlepas dari benar atau tidaknya analisis dan pendapat Neumann yang menyatakan bahwa daerah asli dari orang Karo di Dataran Tinggi Karo mula-mula didiami suatu suku-bangsa, yang rupanya juga tersebar sampai jauh ke selatan, yaitu daerah Samosir… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000Penulis : Suwardono Tebal : xvii + 470 hlm Ukuran : 15 x 23 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Kitab-kitab klasik Nusantara senantiasa perlu mendapatkan perhatian lebih, khususnya dalam penyusunan sejarah dan historiografi Nusantara. Karena dalam kitab-kitab tersebut banyak nama tokoh-tokoh besar, keadaan sosial, hingga keadaan politik Nusantara lama yang disebut, salah satunya Ken… selengkapnya
Rp 42.500 Rp 50.000Buku ini merupakan kumpulan tulisan beberapa aspek dari sejarah lokal di Indonesia. Pada garis besarnya tulisan-tulisan tersebut dikelompokkan atas dasar proses penulisannya. Berturut-turut dalam buku ini dimuat dua buah tulisan dari arsip Hindia Belanda mengenai Sarekat Islam, laporan Zwager tentang Kesultanan Kutai (Kalimantan) di abad ke-19; tulisan Steyn Parvé tentang gerakan Padri di Sumatera Barat;… selengkapnya
Rp 79.900 Rp 94.000Penulis : Kaha Anwar Tebal : 196 hlm Ukuran : Penerbit : Laksana Deskripsi : Siapakah musuh Nabi Muhammad Saw? Tak lain, mereka adalah orang-orang yang selalu menghalanginya menyampaikan risalah kenabian. Mereka adalah orang-orang yang juga tidak segan menyakiti dan menyerang fisik dan psikis Nabi Saw. Musuh-musuh Nabi Saw datang dari berbagai kalangan. Di antara… selengkapnya
Rp 55.250 Rp 65.000Penulis : Anthony Reid Tebal : 386 hlm Ukuran : 16 x 24 cm Penerbit : Obor Indonesia Deskripsi : Konflik Aceh saat ini tidaklah ahistoris. Artinya, kemunculannya bisa ditelisik dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi di provinsi yang sekarang bernama Nanggroe Aceh Darussalam ini. Pembeda peristiwa konfliknya hanyalah waktu dan pelaku. Substansi konfliknya tidak… selengkapnya
Rp 64.000 Rp 80.000Penulis : Syamsul Bakri Tebal : 396 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : LKiS Deskripsi: Dalam penggalan sejarah pergerakan di Indonesia, terdapat komunitas masyarakat yang melakukan aktualisasi ajaran Islam dalam gerakan komunisme. Hal itu dilakukan dengan jalan menemukan titik temu, dan menghilangkan pemahaman yang menjauhkan di antara keduanya. Adaptasi ini kemudian berkembang menjadi… selengkapnya
Rp 72.250 Rp 85.000Penulis : Supriyanto Tebal : 176 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Ombak Deskripsi: Pelabuhan Palembang termasuk dalam wilayah Keresidenan Palembang, terletak di muara Sungai Musi, yaitu pertemuan Sungai Musi dengan Selat Sunda atau Laut Jawa. Pelabuhan itu memiliki peranan penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat terutama dalam kaitannya dengan aktivitas pelayaran dan… selengkapnya
Rp 38.250 Rp 45.000



Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.