Beranda » Sejarah » Agama dan Negara di Indonesia: Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan (Jilid III)

Agama dan Negara di Indonesia: Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan (Jilid III)

DISKON 15% Stok: Tersedia
Berat 600 gram
Kondisi Baru
Kategori Sejarah
Dilihat 711 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan
Rp 170.000 Rp 200.000
Hemat Rp 30.000
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Pesan Langsung
Agama dan Negara di Indonesia: Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan (Jilid III)
Rp 170.000 Rp 200.000
Tersedia
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Buku Agama dan Negara di Indonesia: Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan (Jilid III)

Penulis     : Sri Margana, dkk. (editor)

Tebal         : 517 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi:

Beberapa waktu belakangan, identitas Kebangsaan Indonesia yang majemuk (seolah) sedang terancam. Menguatnya politik identitas—khususnya identitas agama, lebih khususnya lagi Islam—dan berkembangnya organisasi Islam trans-nasional dipersepsikan sebagai ancaman bagi keindonesiaan. Kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendorong aksi besar-besaran yang melibatkan berbagai elemen Islam dan berujung pada kekalahan Ahok di Pilkada DKI Jakarta. Sebuah kekalahan yang harus diakui tidak bisa dilepaskan dari menguatnya sentimen agama di seputar hajatan politik elektoral tersebut. Kekalahan Ahok dan dijatuhkannya hukuman penjara bagi Ahok dengan dakwaan penistaan agama mengundang reaksi balik dari pendukungnya lewat aksi solidaritas penyalaan seribu lilin di pelbagai daerah. Sebagai gubernur non-Muslim di daerah mayoritas Muslim Ahok dianggap sebagian orang sebagai representasi kebhinnekaan Indonesia dan kekalahannya dipandang sebagai kekalahan kebhinnekaan atas ideologi politik sektarian. Aksi kontra dan pro Ahok baik di dunia nyata maupun maya tampak membelah masyarakat Indonesia menjadi dua kubu: pro- kebhinnekaan dan anti- kebhinnekaan atau pro-Islam dan anti-Islam, bergantung sudut pandang (si)apa yang digunakan.

Terlepas dari pertentangan yang tajam antara kedua kubu satu hal yang patut dicatat kedua-duanya menyatakan diri “cinta NKRI”. Dalam batas tertentu dapat dikatakan bahwa yang terjadi adalah perebutan tafsir atas apa yang disebut “NKRI” atau lebih jauh lagi tentang apa itu “Indonesia” dan bagaimana “menjadi Indonesia”. Satu pihak meyakini Indonesia sebagai sebuah entitas yang lahir dari perjuangan dan pengorbanan (umat Islam) sehingga sudah seharusnya Indonesia menjadi sebuah negara-bangsa yang mengakomodasi dan bahkan berkiblat pada tata nilai Islam. Sementara itu, pihak lain membayangkan Indonesia sebagai negara-bangsa sekuler yang memisahkan agama dengan politik dan memberikan tempat yang sama bagi semua golongan—apa pun agama dan etnisnya—tanpa hale eksklusif bagi satu golongan agama tertentu.

Dinamika yang terjadi satu tahun terakhir ini seakan mengulang kembali perdebatan yang pernah terjadi puluhan tahun lalu sebelum, menjelang, dan juga setelah kemerdekaan. Gagasan Kebangsaan Indonesia hari ini adalah hasil dari dialektika antara golongan nasionalis sekuler dan religius tentang bagaimana memosisikan agama (khususnya Islam) dalam konteks nasionalisme Indonesia dan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa merdeka.

 

Tags: ,

Buku Terkait
Diskusi Produk (0)

Silakan tulis komentar Anda

Alamat:

Jl. Kasongan (Agen Wahana Timur Balai Desa Bangunjiwo) Gendeng RT 15, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY 55184

Kurir

Pembayaran

Chat via Whatsapp
Pustaka Kita
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Pustaka Kita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja