Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan layanan pelanggan kami
Pemasaran● online 62882008193627
Redaksi● online 6282328979777
● online
- Dampak Eksekusi Rumah Tinggal Terhadap Pendidikan ....
- Pengantar Psikologi Forensik Edisi Keempat....
- Strategi Investasi dan Trading Saham di Pasar Moda....
- Lalat (Diptera): Peran dan Pengendalian Lalat di B....
- The Science Of Living: Buku Penting dalam Sejarah ....
- Metode Spektrometri....
- Dasar Perancangan Teknik Mesin SMK/MAK Kelas X....
- Absurditas Agama....
- Diskon ❯ Semua buku didiskon mulai 10%
- Asli ❯ Kami menjual buku asli, dari penerbit. Tidak menjual buku bajakan, repro, kw atau ilegal lainnya
- Pengiriman ❯ Pengiriman ke seluruh Indonesia, pengiriman ke luar negeri sila WA kami
- Pembayaran ❯ Transfer Bank, Dompet Elektronik (Link Aja, Dana, Go Pay, OVO), QRIS
- Pengadaan ❯ Menerima pengadaan buku untuk perpustakaan
Nasibmu PDS HB Jassin..Dana Disetop, Buku pun Berjamur
Suasana sejuk memang masi terasa saat masuk di ruang tamu, yang sekaligus ruang baca PDS H.B Jassin. Masih bersih. Jawa Pos adalah pengunjung pertama yang mengisi buku tamu hari itu (Senin, 6/2).
Namun, begitu berada di ruang koleksi, kondisinya sangat berbeda. Tidak sejuk lagi. Bahkan cenderung gerah. Maklum, di ruangan paling vital tersebut, tidak ada lagi embusan angin AC. Ribuan koleksi buku lama, kliping koran, resensi biografi, maupun catatan tangan penulis masih tersimpan rapi sesuai abjad. Sayang, ada sejumlah buku yang mulai berjamur dan berdebu.
”AC mati sudah sejak tahun lalu. Kami sudah panggil tukang servis, tapi dia bilang sudah tidak ada komponennya, sudah kuno,” kata Agung Trianggono, penanggung jawab pengolahan data PDS H.B. Jassin, saat ditemui Jawa Pos hari itu.
Agung yang telah mengabdi di PDS H.B. Jassin sejak 1992 menjelaskan, AC yang digunakan di PDS H.B. Jassin adalah AC sentral. Setiap ruangan memiliki mesin kompresor sendiri. Masalahnya, kompresor untuk AC ruang koleksi sekarang mati.
Akibatnya, jika ramai, pengunjung pasti kepanasan. ”Kalau pas ada kunjungan rombongan, kasihan. Ruangan menjadi gerah dan bau,” ungkap pria 50 tahun itu.
Koleksi PDS H.B. Jassin sangat lengkap dan banyak. Total mendekati angka 200 ribu judul. Data terakhir meliputi 21.300 judul buku fiksi, 17.700 nonfiksi, 475 judul buku referensi, 875 judul naskah/buku drama, 870 judul buku biografi, 130.534 judul kliping, 690 judul foto pengarang, 789 judul skripsi dan disertasi, 742 judul rekaman suara, serta 25 judul video kaset rekaman. PDS juga memiliki naskah asli tulisan tangan sastrawan lama seperti Chairil Anwar dan Amir Hamzah.
Menurut Agung, masalah AC hanyalah salah satu bagian dari kompleksitas problem yang dihadapi perpustakaan yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 30 Mei 1977 itu.
Sejak Agustus 2016, PDS H.B. Jassin tidak mendapat dana hibah dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Penyebabnya, status PDS H.B. Jassin kini berbentuk yayasan. Dan, berdasarkan keputusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pemprov tidak lagi memberikan dana hibah untuk yayasan mana pun. ”Padahal, selama ini andalan kami ya dana dari pemprov itu,” kata Agung.
Sebelum era Ahok, PDS H.B. Jassin mendapatkan dana hibah yang cukup besar dari pemprov. Misalnya, di era Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi gubernur, dana yang diberikan untuk PDS H.B. Jassin Rp 2 miliar setiap tahun. ”Tapi, begitu Pak Jokowi naik menjadi presiden, anggarannya dikurangi. Bahkan, mulai tahun lalu, dana itu disetop,” bebernya.
Selama ini, terang Agung, sebagian besar dana hibah dari Pemprov DKI tersebut habis untuk kebutuhan dokumentasi dan operasional kantor. Sebagai yayasan nirlaba, PDS H.B. Jassin secara periodik melakukan dokumentasi atas karya sastra baru dan mengkliping karya sastra yang dimuat di berbagai media massa.
Untuk gaji karyawan, Yayasan PDS H.B. Jassin masih sulit memberikan nominal yang memadai. Malah, sampai saat ini gaji karyawan PDS masih di bawah upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta. Agung mencontohkan dirinya yang sudah 25 tahun masa pengabdiannya. Hingga kini gajinya tak lebih dari Rp 2 juta per bulan. ”Di sini ada 12 karyawan, ditambah dua OB (office boy). Tapi, gaji OB malah sudah UMR, sedangkan kami belum,” ungkapnya.
Setelah tidak menerima dana dari Pemprov DKI, kelangsungan hidup PDS H.B. Jassin ibarat mati segan hidup pun tak mau. Pada September sampai Desember tahun lalu, PDS memang masih bisa hidup dari bantuan pribadi Gubernur Ahok.
Namun, sejak Januari 2017, donasi dari Ahok tidak ada lagi. Praktis, PDS hanya mengandalkan sisa dana kas yayasan. Mereka mulai kesulitan dana operasional. ”Gaji rutin kami masih dapat, tapi entah pada akhir bulan nanti,” kata Agung sambil menerawang.
Menurut Agung, sejatinya pihak yayasan sudah melakukan komunikasi dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta. Pihak BPAD siap mengambil alih PDS H.B. Jassin menjadi PAD. Namun, masih ada kekhawatiran dari yayasan terkait identitas H.B. Jassin nanti.
”Kalau diambil alih, apakah hanya dokumen-dokumennya atau PDS H.B. Jassin dihilangkan? Sebab, kalau PDS dicampur PAD, bisa jadi namanya hilang,” kata Agung.
Bukan hanya itu, status kelanjutan kerja karyawan PDS H.B. Jassin juga menjadi tanda tanya. Agung sendiri pesimistis statusnya bisa naik menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Sebab, usianya sudah mendekati setengah abad. ”Saya kan juga ingin merasakan gaji sebagai PNS, tapi kayaknya…,” kata Agung tak kuasa melanjutkan.
Dengan APBD 2017 sebesar Rp 70,191 triliun, Pemprov DKI sebenarnya bisa menganggarkan dana hibah untuk membantu Yayasan PDS H.B. Jassin seperti dulu. Namun, kebijakan Gubernur Ahok menafikan dana hibah itu lagi. Sebab, kalau Yayasan PDS H.B. Jassin mendapat dana hibah, sangat mungkin yayasan-yayasan swasta lainnya menuntut hal yang sama kepada pemprov.
Masalahnya, PDS H.B. Jassin adalah harta karun intelektual yang tak terkira besarnya. Tidak hanya bagi masyarakat Jakarta, tapi juga bangsa ini. Bahkan bagi masyarakat asing yang membutuhkan literatur sastra di situ.
”Terus terang, setiap hari kami harus mengeluarkan biaya untuk operasi PDS. Misalnya membantu mahasiswa yang ingin memfotokopi bahan yang dibutuhkan untuk membuat skripsi. Atau untuk beli ini dan itu,” papar Agung.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca BPAD DKI Hari Wibowo mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah mengirim draf nota kesepahaman untuk pengambilalihan PDS H.B. Jassin pada September 2016, tapi hingga kini belum mendapat respons yayasan. Atas ketidakjelasan respons dari Yayasan PDS H.B. Jassin itu, pemprov memutuskan untuk menghentikan dana hibah sejak Januari 2017. ”Itu konsekuensinya,” ucap dia.
Hari menyesalkan harus menghentikan dana hibah tersebut ke PDS H.B. Jassin. Sebagai bahan pertanggungjawaban, pihaknya sudah mengirimkan laporan (soal PDS H.B. Jassin) itu kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Sumarsono awal Januari lalu.
Sumarsono juga tidak berkeberatan atas pemutusan dana hibah tersebut. Buktinya, dia tidak memberikan dana lagi untuk biaya operasional Yayasan PDS H.B. Jassin. ”Apa boleh buat. Itu harus kami tempuh,” tutur Hari.
Sumber: jpnn
Tags: H.B. Jassin, perpustakaan
Nasibmu PDS HB Jassin..Dana Disetop, Buku pun Berjamur
Panggilan keseharian Mustofa, nama lengkapnya Mustofa W.Hasyim. Ia merupakan anak dari pasangan bapak Muh. Wazir Hasyim dengan ibu Darimah. Masa... selengkapnya
Kiprah Budi Darma sebagai sastrawan Indonesia tidak diragukan lagi. Ratusan karya berupa esai, novel, dan cerpen beredar luas. Semua karya... selengkapnya
Shelina Janmohamed menulis buku tentang “Generation M: Young Muslims Changing the World”, yang membahas tentang peningkatan tren konsumerisme global yang... selengkapnya
Penerbit Le Seuil Belanda akan meluncurkan sebuah buku yang memuat sketsa-sketsa dari Vincent Van Gogh. Namun, para ahli dari pihak... selengkapnya
Sejumlah anggota DPR RI mengusulkan segera dibentuknya Badan Perbukuan Nasional untuk menggantikan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) di Kemendikbud, dalam... selengkapnya
Dalam era digital dan globalisasi, penelusuran dan identifikasi buku menjadi semakin penting. Salah satu sistem yang mendukung proses ini adalah... selengkapnya
Jakarta – Sukses mengirim sembilan orang penulis melakukan residensi ke mancanegara, tahun ini Komite Buku Nasional (KBN) dan Kementerian Pendidikan... selengkapnya
Menyebut nama Eka Kurniawan pastinya akan muncul sederet prestasi di ranah literasi nasional dan dunia. Eka Kurniawan si penulis ‘Lelaki... selengkapnya
Omar Niode Foundation, sebuah lembaga nirlaba dari Indonesia yang menerbitkan buku Trailing the Taste of Gorontalo, kumpulan tulisan dan rangkaian... selengkapnya
Memasuki hari ketiga Bologna Children’s Book Fair 2017, perwakilan Indonesia mendapatkan sejumlah penawaran bisnis dan budaya dari sejumlah negara. Salah... selengkapnya
Penulis : Muhamad Muiz Raharjo Tebal : hlm Ukuran : 17,5 x 25 cm Penerbit : Manggu Deskripsi : Perencanaan… selengkapnya
Rp 114.750 Rp 135.000Dunia sekarang ini benar-benar penuh banget, ya? Suara notifikasi tiada habisnya, kerjaan menumpuk, dan kadang kita merasa harus terus bergerak… selengkapnya
Rp 38.250 Rp 45.000Penulis : Tri Anggraeni Kusumastuti dan Sarim Sembiring Tebal : 220 hlm Ukuran : 15,5 x 23 cm Penerbit :… selengkapnya
Rp 66.300 Rp 780.000Penulis : Wuyung Setyono dan Daryanto Tebal : x + 306 hlm Ukuran : 16 x 23 cm Penerbit :… selengkapnya
Rp 72.250 Rp 85.000Penulis : Erich Fromm Tebal : 300 hlm Ukuran : 14 x 20,5 cm Penerbit : Ircisod Deskripsi : Erich… selengkapnya
Rp 63.750 Rp 75.000Penulis : Ambar Teguh Sulistiyani dan Rosidah Tebal : xx + 378 hlm Ukuran : 16 x 23 cm Penerbit … selengkapnya
Rp 84.575 Rp 99.500Penulis : Edy Purwanto Tebal : 164 hlm Ukuran : 14,5 x 21 cm Penerbit : Ombak Deskripsi : Evaluasi… selengkapnya
Rp 38.250 Rp 45.000Penulis : Tim Pusat Kajian Bahasa Tebal : 134 hlm Ukuran : 16 x 24 cm Penerbit : Pusat Kajian… selengkapnya
Rp 161.075 Rp 189.500Penulis : Imam At-Tirmizi Tebal : 380 hlm Ukuran : Penerbit : Diva Press Deskripsi : Sungguh takkan pernah usai… selengkapnya
Rp 85.000 Rp 100.000


Saat ini belum tersedia komentar.